INJIWARRIOR

Injiwarrior.com adalah portal berita lingkungan yang menyampaikan informasi edukatif serta informasi tentang pengungkapan, pencegahan maupun penindakan kasus - kasus kejahatan satwa liar dan pengrusakan hutan di Indonesia. Kami menyampaikan berita yang berkualitas dan berupaya menerapkan standar tinggi jurnalisme dalam meliput peristiwa dan menuliskannya secara tajam, cerdas dan berimbang.

 NASA Pantau Karbon Monoksida Tutupi Indonesia

Pantauan konsentrasi Karbon Monoksida oleh NASA. (Foto: Dok. NASA)

Kabar Alam

NASA Pantau Karbon Monoksida Tutupi Indonesia

Karbon monoksida sendiri adalah gas tidak berwarna dan tidak berbau yang dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna. Gas dapat berasal dari kebakaran hutan dan lahan, kendaraan bermotor, serta kegiatan industri.

26 Oktober 2026 15:27:00 WIB 01 Januari 1970 07:00:00 WIB


inji Warrior, Jakarta - Citra satelit NASA's Eyes on the Earth menampilkan sebaran gas karbon monoksida (CO) di atmosfer Indonesia. Terbentang dari Sumatera hingga Papua, apa dampakkarbon monoksida?
Karbon monoksida sendiri adalah gas tidak berwarna dan tidak berbau yang dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna. Gas dapat berasal dari kebakaran hutan dan lahan, kendaraan bermotor, serta kegiatan industri.
Selain itu, karbon monoksida juga dapat muncul dari lingkungan sekitar seperti, pemanas ruangan dengan minyak tanah, cerobong asap, hingga kompor gas.

Dampak Karbon Monoksida pada Tubuh
Menurut Kementerian Kesehatan dalam laman resminya, paparan karbon monoksida dapat menimbulkan gejala, sakit kepala,pusing, sesak nafas, mata berair dan tekanan darah tinggi.
Apabila seseorang menghirup karbon monoksida secara terus menerus, akan muncul penyakit yang berkaitan dengan jantung seperti:

1. Jantung koroner

2. Serangan jantung

3. Penyakit kardiovaskuler lainnya

Tanggapan BMKG Soal Citra NASA
Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, mengatakan citra NASA karbon monoksida itu memperlihatkan sebaran gas pada lapisan atmosfer sekitar 500 milibar atau 5-6 kilometer di atas permukaan bumi. Menurutnya, peta tersebut tidak otomatis menunjukkan kadar udara yang dihirup masyarakat.

"Cara membacanya, warna merah hingga jingga menunjukkan jumlah CO di lapisan tersebut yang relatif lebih tinggi dibanding wilayah lain. Warna tersebut tidak menunjukkan kadar di udara yang kita hirup, tidak otomatis berarti berbahaya bagi kesehatan, dan tidak memastikan sumber emisi di setiap wilayah yang berwarna," tuturnya, dikutip dari detikNews, Senin (26/10/2026).

Salah satu sifat karbon monoksida adalah waktu bertahannya yang cukup lama di atmosfer. Kondisi ini membuat gas tersebut dapat terbawa angin hingga ribuan kilometer dari sumbernya. Namun, penyebaran yang luas ini tidak berarti konsentrasi karbon monoksida juga tinggi.

"Sebaran yang luas juga tidak sama dengan konsentrasi yang tinggi, karena CO dapat bertahan cukup lama di udara sehingga dapat menyebar ke wilayah yang sangat luas dalam keadaan konsentrasi yang lebih rendah," jelasnya.

Marjuki menegaskan citra satelit NASA bermanfaat untuk melihat pergerakan gas di atmosfer. Namun, informasi itu tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan untuk menilai kualitas udara yang dihirup masyarakat.

JOIN US




JOIN US