INJIWARRIOR

Injiwarrior.com adalah portal berita lingkungan yang menyampaikan informasi edukatif serta informasi tentang pengungkapan, pencegahan maupun penindakan kasus - kasus kejahatan satwa liar dan pengrusakan hutan di Indonesia. Kami menyampaikan berita yang berkualitas dan berupaya menerapkan standar tinggi jurnalisme dalam meliput peristiwa dan menuliskannya secara tajam, cerdas dan berimbang.

Harimau Serang Petani saat Panen Cabai di Aceh

Harimau menyeberang jalur yang merupakan perlintasan warga sehingga acap menimbulkan konflik. (INJIWARRIOR/HO)

Kabar Alam

Harimau Serang Petani saat Panen Cabai di Aceh

Karena terkejut bercampur takut, Muhajir berupaya menyelamatkan diri dengan memanjat pohon yang terdekat. Namun malang, harimau sempat menerkam bagian kakinya hingga terluka.

21 Mei 2022 15:03:00 WIB 23 Mei 2022 19:14:05 WIB

Aceh Selatan, INJIWARRIOR - Konflik harimau dengan manusia kembali terjadi di Desa Seuleukat, Kecamatan Bakongan, Aceh Selatan, Aceh. Seorang warga, Muhajir (47), diserang harimau ketika berada di kebunnya.


"Kejadiannya siang tadi sekitar pukul 11.00 WIB. Harimau tiba-tiba keluar dari semak belukar," kata Kepala Seksi Wilayah II Subulussalam Balai Konservasi Sumber Daya AAceh, Hadi Sofyan, Sabtu (21/5/2022).

Saat itu, Muhajir sedang memanen cabai di kebunnya. Tiba-tiba, si Raja Rimba keluar dari semak-semak di sekitar kebun.

Karena terkejut bercampur takut, Muhajir berupaya menyelamatkan diri dengan memanjat pohon yang terdekat. Namun malang, harimau sempat menerkam bagian kakinya hingga terluka.

Akibat terkaman si Belang, Muhajir mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah dr Yulidin Away (RSUDYA) Tapaktuan karena luka parah di betis bagian kanan dalam.

Sebelumnya, di lokasi tersebut, Senin (7/2), seorang petani bernama Amrimus, 67 tahun, diserang harimau saat memanen kelapa sawit di kebun.

Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto mengatakan bahwa konflik harimau dengan warga sudah berlangsung lama. Pihak BKSDA Aceh sudah berupaya melakukan penanganan konflik antara harimau dan manusia di Aceh Selatan.

“Kami turut prihatin dengan kejadian ini. BKSDA terus berusaha menyelesaikan konflik. Dan, Tim di lapangan memantau jejak harimau selama delapan bulan ini. Lima Box Trap Terpasang di titik di mana harimau sering muncul (Aceh Selatan), agar bisa kami translokasi ke habitat yang lebih baik dan jauh dari warga,” kata Agus.

Selain memasang box trap, upaya mitigasi konflik lain tambah Agus yakni dengan melibatkan tim medis dalam upaya penangkapan harimau menggunakan senjata bius. “Tapi upaya-upaya ini belum memberikan hasil,” kata Agus.

Kebun-kebun warga di wilayah Aceh Selatan mayoritas berdekatan dengan kawasan hutan di mana harimau berada, sehingga konflik acap terjadi. “Kami mengimbau warga agar tidak pergi sendiri jika berkebun,” kata Agus.

Konflik antara manusia dan harimau acap terjadi di Sumatera dan Aceh.

Akhir April lalu, konflik serupa terjadi di Kecamatan Angkola Sangkunur, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Seorang dokter hewan dari BKSDA Sumatra Utara, drh Anhar Lubis, diserang harimau ketika menembakkan bius untuk proses evakuasi. Dr Anhar mendapat perawatan di rumah sakit karena terluka parah di bagian lengan dan paha.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satwa lindung berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.

Berdasarkan the International Union for Conservation of Nature (IUCN), satwa endemik Sumatra ini berstatus Terancam Kritis (Critically Endangered) atau setingkat lagi menuju kepunahan di alam liar.

 

 

JOIN US




JOIN US