INJIWARRIOR

Injiwarrior.com adalah portal berita lingkungan yang menyampaikan informasi edukatif serta informasi tentang pengungkapan, pencegahan maupun penindakan kasus - kasus kejahatan satwa liar dan pengrusakan hutan di Indonesia. Kami menyampaikan berita yang berkualitas dan berupaya menerapkan standar tinggi jurnalisme dalam meliput peristiwa dan menuliskannya secara tajam, cerdas dan berimbang.

Kisah Nyata Penjaga Leuser, Bertemu Harimau Sumatera Baik

Ilustrasi: Harimau Sumatera  (Panthera tigris sumatrae) saat pelepasliaran di zona inti TNGL, Jumat (25/11/2022). (Foto/BBKSDASumut)

Leuser

Kisah Nyata Penjaga Leuser, Bertemu Harimau Sumatera Baik

Sabtu, 26 November 2022, adalah hari yang paling menyeramkan dan tidak pernah terlupakan bagi Iqbal. Di situlah ia berhadapan langsung dengan harimau Sumatera (HS). Saat itu, baginya, bumi seolah berhenti berputar. Ia membeku.

08 Desember 2022 10:09:00 WIB 09 Desember 2022 15:08:42 WIB

MUHAMMAD Iqbal Sani (23) tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan benar-benar berhadapan langsung dengan harimau Sumatera di alam liar.  Apalagi itu ada dalam radius satu meter. 

Sabtu, 26 November 2022, adalah hari yang paling menyeramkan dan tidak pernah terlupakan bagi Iqbal. Di situlah ia berhadapan langsung dengan harimau Sumatera (HS). Saat itu, baginya, bumi seolah berhenti berputar. Ia membeku.

Sebelum kehadiran harimau Sumatera-penghuni hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Iqbal bermain dengan kucing di areal Sumatran Rescue Alliance (SRA)-Orangutan Information Center (OIC). Ini merupakan pusat penyelamatan orangutan di Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat. Kebetulan, pria berambut panjang ini merupakan staf SRA.

Tiba-tiba, si Belang mendadak muncul dan menjerat kucing dengan kedua kaki depannya. Alhasil, ini membuat Iqbal shock. 

“Kucing itu awalnya bermain di dekat saya. Kemudian, kucing saya tangkap dan lepaskan tidak jauh. Tiba-tiba datok-sebutan untuk harimau, karena menyebutnya di hutan dianggap tabu dan dianggap bisa mengundang kehadirannya secara tiba tiba-muncul menerkam kucing. Saya tidak bisa bergerak sesaat karena shock, ketika tersadar saya mundur dan terpelanting ke jurang di belakang,” kata Iqbal pada kegiatan Conservation Leadership Training di Sekolah Alam Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, Selasa, (29/11/2022) malam.

Akibatnya, Iqbal mengalami keram otot dan dislokasi. “Saat berhadapan dengan HS, ia sempat menoleh dan melihat ke arah saya, di situlah saya hilang kendali diri,” kata pria berkulit sawo itu.

Karena pertemuan dengan hewan bernama latin Panthera tigris sumatrae itu, Iqbal mengalami trauma dan tidak bisa berbicara selama dua hari. Iqbal mendapat efek yang sangat besar terhadap tubuh dan psikologisnya. 

Namun, terlepas dari itu, kucing besar yang Iqbal jumpai merupakan "kucing besar" baik pada saat itu. Karena satwa endemik Sumatra tersebut tidak melukai apalagi memangsa kucing maupun Iqbal. 

“Nampaknya harimau itu masih kenyang. Badannya pun terlihat padat dan sehat. Ia hanya bermain dengan kucing saat itu, kendati sempat melihat ke arah saya yang ada di sampingnya dalam jarak satu meter, ia tidak terlalu bereaksi, kemudian kembali bermain dengan kucing,” kata Iqbal.

Saat berdialog dengan Iqbal empat hari setelah kejadian, semangatnya sudah mulai pulih. Ia dapat berkomunikasi dan sesekali melempar senyum dan tawa kepada rekan-rekan. 

Community Development Yayasan Orangutan Sumatra Lestari-Orangutan Information Center (YOSL-OIC) sekaligus Ketua Panitia Conservation Leadership Training Batch VI, Muhammad Ikhwan mengatakan bahwa di Desa Bukit Mas yang berbatasan langsung dengan TNGL, masyarakat acap bertemu dengan harimau. “Bahkan harimau pernah terlihat di pinggiran sungai, di lokasi penyeberangan getek di mana warga setempat beraktivitas,” katanya.

Berdasarkan survery Population Viability Analysis (PVA) oleh beberapa lembaga, populasi harimau di Pulau Sumatra saat ini kurang lebih 500 individu. Namun, data statistik Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) pada 2018 mencatat hanya ada 210 individu.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satwa lindung berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.

Merujuk the International Union for Conservation of Nature (IUCN), satwa endemik Sumatra ini berstatus Terancam Kritis (Critically Endangered) atau setingkat lagi menuju kepunahan di alam liar.

 

Penulis: Nurni Sulaiman

Editor : Nurni Sulaiman

JOIN US




JOIN US